Diawali dengan " Bismillahirrohmanirrahim.."

The Science without Religion is blind,
The Religion without science is lame"

muhammadfahriapriyanto.blogspot.com
“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat, masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.”
(At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

YUK.. BROWSING SAMBIL BELAJAR...
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2015

Umat Islam Harus Tolong Menolong dan Kerja Sama

tangan
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”  (QS. Al-Maaidah: 2)

SALAH satu pilar kesuksesan dalam segala urusan termasuk dalam kehidupa keluarga adalah tolong menolong. Kesuksesan pengusaha adalah hasil kerjasama antar pihak terkait, baik dari jajaran direksi, marketing, bagian produksi, teknisi dan lain-lain. Termasuk bagian yang tak kalah penting namun terkadang sering dianggap remeh yaitu bagian Security dan Office Boy.
Begitu juga kesuksesan dalam rumah tangga hanya akan terjadi jika kerja sama antara Istri dan Suami terjalin dengan baik.

Hanya orang yang picik, egois dan sombong yang menganggap keberhasilan dirinya adalah hasil tangannya sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Salah satu contoh yang terekam dalam Al-Qur’an adalah Karun, yang mengklaim bahwa kekayaannya diperoleh semata-mata karena ilmunya (QS. Al-Qashash :78). Akibatnya kebinasaan dan azab Allah ditimpakan kepadanya.

Tolong menolong adalah Sunnah Kauniyah dan Faridhah Syar’iyah (sunnatullah terkait dengan alam semesta). Allah menciptakan beragam makhluknya dan juga berbeda-beda. Kerjasama yang terjalin antar makhluk itulah kehidupan dapat terjalin secara sinergi dan serasi. Kerjasama antara pasir, semen, batu, besi dan unsur bangunan lainnya, maka tercipta bangunan yang kokoh dan megah. Karenanya jika tidak mengakui peran pihak lain dalam menghantarkan kita ke puncak sukses artinya kita bertentangan dengan sunnatullah di muka bumi ini.

Jika fenomena keberagaman ciptaan Allah SWT sebagai bagian dari sunnah kauniyah tentang keharusan kerja sama, maka ayat diatas mempertegas bahwa tolong menolong dan kerja sama merupakan “Faridhah Syar’iyah” (kewajiban Syariat) dan Amrun Ilahi (Perintah Allah).

Tidak semua tolong menolong atau kerja sama diperintah oleh Islam. Melainkan hanya tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Ibnu Katsir mengatakan bahwa firman Allah tersebut memerintahkan kepada manusia agar tolong menolong dalam kebaikan. Dan itulah yang disebut “Birr”. Dan tolong menolonglah untuk saling meninggalkan berbagai kemunkaran, yang tersebut dinamakan ‘Takwa’.

Kebaikan disini bukan dinilai dengan hawa nafsu dan menurut selera banyak orang. Tapi meliputi semua kebaikan yang diperintahkan oleh syariat. Sementara dosa dan maksiat adalah semua yang dilarang oleh syariat, atau sesuatu yang mengganjal dan tidak senang jika terlihat atau diketahui oleh orang lain.

Karena itulah seorang mukmin wajib menolong sesama, baik ia suka maupun suka selama masih dalam koridor Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu baik dalam keadaan zhalim atau dalam keadaan mazhlum (dizhalimi)” kemudian Rasulullah ditanya, “Ya Rasulullah, aku menolong yang dizhalimi itu hal yang biasa. Tapi bagaimana caranya menolong saudaraku yang dalam keadaan zhalim?” Beliau menjawab, “Engkau melarang dan mencegahnya agar tidak berbuat zhalim, maka inilah cara menolongnya,” (HR. Bukhari). [fha/islampos/ummi/aksuhail]

https://www.islampos.com/umat-islam-harus-tolong-menolong-dan-kerja-sama-130609/


 

Minggu, 23 Agustus 2015

Buku Putih Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab (1)



بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dari dulu hingga sekarang, perdebatan serta perbincangan seputar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dan jalan dakwahnya, terus berkecamuk antara mereka yang pro dan yang kontra.

Dan yang mengherankan dari dakwaan mereka yang kontra -yang melontarkan tuduhan-tuduhan kepada Syaikh- adalah: omongan mereka yang kosong dari dalil berupa bukti dari perkataan Syaikh atau tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang terdahulu, lalu ‘difotokopi’ oleh para pewaris mereka.

Kami kira setiap orang yang obyektif sepakat bahwa jalan yang paling tepat untuk mengenal hakikat pemikiran seseorang adalah dengan cara kembali langsung kepada orang tersebut atau kepada referensi-referensi yang otentik.

Alhamdulillah tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab -ed) sampai saat ini masih ada dan mudah untuk didapatkan. Dengan menelaah tulisan-tulisan tersebut, benar tidaknya isu-isu yang sementara ini tersebar di masyarakat akan terlihat. Adapun tuduhan-tuduhan yang tanpa bukti, maka ini bagaikan fatamorgana yang tidak ada hakikatnya.

Di tulisan ini, kami akan memaparkan ucapan-ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kami nukil dengan penuh amanah dari referensi-referensi otentik yang menghimpun perkataan-perkataan beliau. Peran kami dalam buku ini hanyalah sebagai penyusun.

Buku ini memuat jawaban-jawaban Syaikh sendiri, atas tuduhan-tuduhan utama yang dilontarkan ‘para lawan’ dakwah beliau. Kami amat yakin insya Allah dengan taufik dari Allah, tulisan ini akan cukup untuk menjelaskan al-Haq bagi mereka yang memang menginginkannya.

Adapun mereka yang memusuhi dan menentang perjuangannya, yang tidak henti-hentinya menebarkan tuduhan-tuduhan dusta, maka kami katakan kepada mereka: ‘Sadarlah, karena sesungguhnya kebenaran telah jelas, agama Allah ta’ala akan menang dan cahaya matahari yang bersinar terang tidak bisa dihalangi dengan kedua telapak tangan.’

Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluhlantakkan tuduhan-tuduhan mereka. Jika mereka memiliki bukti dari perkataan beliau yang menguatkan tuduhan tersebut maka keluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, maka kami menasihatkan, “Telusurilah jalan Allah ta’ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsu dan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkan kebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudian renungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah?

Kemudian renungkan kembali: Adakah jalan keselamatan selain dengan mengucapkan kebenaran serta membenarkannya?

Jika telah datang kebenaran kepadamu maka terimalah dan ikutilah kebenaran tersebut; karena yang demikian lebih baik dari pada bersikeras dalam kebatilan.
Hanya kepada Allah-lah semuanya akan kembali…

Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab
Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwah yang beliau serukan. Karena hingga saat ini ‘para musuh’ dakwah beliau masih terus membangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untuk melihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau.

Syaikh berkata,
“Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalan lurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yang mengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orang filsafat.

Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepada sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruh umatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan aku jadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datang kepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akan kubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecuali perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikan selain kebenaran.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).

“Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orang yang mengada-adakan hal yang baru dalam agama.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/36).
“Dan yang aku dakwahkan sebenarnya adalah: Kita tidak boleh menyembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً
“Maka kamu janganlah menyembah seorang pun di samping menyembah Allah.” (QS. Al-Jin: 18)
Allah ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلا رَشَداً
“Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak ( pula)kuasa memberikan suatu kemanfaatan.” (QS. Al-Jin: 21)

Inilah firman Allah ta’ala yang telah disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita… Inilah yang akan menjadi hakim antara kalian dan diriku. Jika kalian mendengar tentang dakwahku selain yang kukatakan tadi, maka ketahuilah bahwa hal itu adalah dusta.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/90-91).

Poin Pertama: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara tuduhan besar yang dilontarkan ‘musuh-musuh’ dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah:

1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul.

Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telah membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhan tersebut:
“Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup Para Nabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengan kenabian dan kerasulannya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).
“Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnya adalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan ajaran beliau.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak memosisikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya.

Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskan keyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau berkata, “Ketika Allah ta’ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid dan menyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliau senantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa ‘alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa ‘alaihis salam. Hingga Allah ta’ala memunculkan mutiara tersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masa-masa terputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus.

Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yang tidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allah ta’ala menumbuhkan beliau dengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budi pekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta paling jujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya); karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/90-91).

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberi syafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam ‘alaihis salam dan keturunannya kelak berada di bawah benderanya.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86).

“Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang paling utama adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/143).

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnya dengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihat terbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengan sebenar-benarnya di jalan Allah ta’ala, serta beribadah kepada Allah ta’ala hingga ajalnya tiba.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia”, menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108).

3. Beliau dituduh mengingkari syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, “Mereka menuduh kami mengingkari syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar. Bahkan kami menjadikan Allah ta’ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta’ala untuk memberikan syafaat dan pemilik syafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar mengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah ta’ala mengumpulkan kita bersamanya kelak.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64).
“Yang mengingkari adanya syafaat adalah ahlul bid’ah dan orang yang sesat. Akan tetapi syafa’at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dari Allah ta’ala. Sebagaimana firman-Nya,

وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى
“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 28)

Allah ta’ala juga berfirman.
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)
(Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31).

Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, “Tatkala kusebutkan kepada mereka apa yang difirmankan Allah ta’ala, apa yang disabdakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab, tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta’ala semata serta larangan untuk menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah ta’ala, mereka pun berkata, “Kamu telah melecehkan para nabi, orang-orang shalih dan para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50).

Poin Kedua: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). 

Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwa beliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya.

Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliau mengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka, beliau berkata, “Allah ta’ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka, dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid. Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Yang kami ingkari adalah model pemuliaan ahlul bait dengan cara meyakini bahwa dalam diri mereka terdapat sifat-sifat ketuhanan, juga aku mengingkari orang-orang yang menghormati oknum-oknum yang mendakwakan hal tersebut.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/284).

Siapapun yang membaca biografi beliau, niscaya dia akan mengetahui kebenaran apa yang diucapkannya. Cukuplah sebagai bukti akan kebenaran ucapan beliau; tatkala beliau menamai enam dari tujuh orang putra-putranya dengan nama-nama ahlul bait. Mereka adalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan salah satu bukti yang jelas tentang besarnya kecintaan beliau terhadap ahlul bait.

Poin Ketiga: Tentang Karamah Para Wali 

Sebagian orang menyebarkan isu bahwa beliau mengingkari adanya karamah para wali.
Perkataan beliau di berbagai pembahasan dalam kitab-kitabnya membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara ucapan beliau, “Aku meyakini keberadaan karamah para wali.” (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).
Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin beliau dituduh demikian, padahal beliau adalah orang yang menyifati golongan yang mengingkari karamah para wali dengan sebutan ahlul bid’ah dan golongan sesat?! Beliau berkata, “Dan tiada yang mengingkari karamah para wali melainkan ahlul bid’ah dan golongan yang sesat.” (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: I/169).

-bersambung insya Allah-
***
Diambil dari Kitab Tashhihul Mafahimil Khoti’ati
Karya: Syaikh DR. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindy
( Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah )
Diterjemahkan oleh: Nur Kholis Kurdian, Lc.
(Dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur)

Dikoreksi ulang oleh: Abdullah Zaen, Lc. & Muhammad Yasir, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

Selasa, 11 Agustus 2015

Al-Imam Al-Mujaddid, Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab

Penulis: Al-Ustadz Zainul Arifin
Nasab, Kelahiran, dan Perkembangan Beliau rahimahullah
Beliau adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid At-Tamimi. Beliau dilahirkan pada tahun 1115H -bertepatan dengan 1703M- di negeri ‘Uyainah, daerah yang terletak di utara kota Riyadh, di mana keluarganya tinggal.

Beliau tumbuh di rumah ilmu di bawah asuhan ayahanda beliau, ‘Abdul Wahhab, yang menjabat sebagai hakim di masa pemerintahan ‘Abdullah bin Muhammad bin Hamd bin Ma’mar. Kakek beliau, yakni Asy-Syaikh Sulaiman adalah tokoh mufti yang menjadi referensi para ulama. Sementara seluruh paman-paman beliau sendiri juga ulama.

Beliau dididik ayah dan paman-pamannya semenjak kecil. Beliau telah menghafalkan Al-Qur’an sebelum mencapai usia 10 tahun di hadapan ayahnya. Beliau juga memperdengarkan bacaan kitab-kitab tafsir dan hadits, sehingga beliau unggul di bidang keilmuan dalam usia yang masih sangat dini. Di samping itu, beliau sangat fasih lisannya dan cepat dalam menulis. Ayahnya dan para ulama di sekitarnya amat kagum dengan kecerdasan dan keunggulannya. Mereka biasa berdiskusi dengan beliau dalam permasalahan-permasalah ilmiah, sehingga mereka dapat mengambil manfaat dari diskusi tersebut. Mereka mengakui keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri beliau. Namun beliau tidaklah merasa cukup dengan kadar ilmu yang sedemikian ini, sekalipun pada diri beliau telah terkumpul sekian kebaikan. Beliau justru tidak pernah merasa puas terhadap ilmu.

Rihlah Beliau dalam Menuntut Ilmu
Beliau tinggalkan keluarga dan negerinya untuk berhaji. Seusai haji, beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dan menimba ilmu dari para ulama di negeri itu. Di antara guru beliau di Madinah adalah:
  • Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif, dari Alu (keluarga) Saif An-Najdi. Beliau adalah imam bidang fiqih dan ushul fiqih.
  • Asy-Syaikh Ibrahim bin ‘Abdillah, putra Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif, penulis kitab Al-‘Adzbul Fa’idh Syarh Alfiyyah Al-Fara’idh.
  • Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Hayah As-Sindi, dan beliau mendapatkan ijazah dalam periwayatannya dari kitab-kitab hadits.
Kemudian beliau kembali ke negerinya.
Tidak cukup ini saja, beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke negeri Al-Ahsa’ di sebelah timur Najd. Di sana banyak ulama mahdzab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Beliau belajar dari mereka, khususnya ulama mahdzab Hambali. Di antaranya adalah Muhammad bin Fairuz dan ‘Abdul Wahhab bin Fairuz. Beliau belajar fiqih kepada mereka dan juga belajar kepada ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif Al-Ahsa’i.
Tidak cukup sampai di situ. Bahkan beliau menuju ke Iraq, khususnya Bashrah, yang pada waktu itu dihuni oleh para ulama ahlul hadits dan fiqih. Beliau menimba ilmu dari mereka khususnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i, dan selainnya. Setiap kali pindah, jika beliau memperoleh buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim muridnya, beliau segera menyalinnya dengan pena. Beliau menyalin banyak buku di Al-Ahsa’ dan Bashrah, sehingga terkumpullah kitab-kitab beliau dalam jumlah yang besar.
Selanjutnya beliau bertekad menuju negeri Syam, karena di sana ketika itu terdapat ahlul ilmi dan ahlul hadits, khususnya dari mahdzab Hambali. Namun setelah menempuh perjalanan ke sana, terasa oleh beliau perjalanan yang sangat berat. Beliau ditimpa lapar dan kehausan, bahkan hampir saja beliau meninggal dunia di perjalanan. Maka beliaupun kembali ke Bashrah dan tidak melanjutkan rihlah-nya ke negeri Syam.
Selanjutnya beliau bertolak ke Najd setelah berbekal ilmu dan memperoleh sejumlah besar kitab, selain kitab-kitab yang ada pada keluarga dan penduduk negeri beliau. Setelah itu, beliau pun berdakwah, mengadakan perbaikan dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta tidak ridha dengan berdiam diri membiarkan manusia dalam kesesatan.

Dakwah Beliau
Kondisi keilmuan dan keagamaan manusia waktu itu benar-benar dalam keterpurukan yang nyata, hanyut dalam kegelapan syirik dan bid’ah. Sehingga, khurafat, peribadatan kepada kuburan, mayat, dan pepohonan merajalela. Sedangkan para ulamanya sama sekali tidak mempunyai perhatian terhadap aqidah salaf dan hanya mementingkan masalah-masalah fiqih. Bahkan di antara mereka justru memberikan dukungan kepada pelaku-pelaku kesesatan tersebut.
Adapun dari segi politik, mereka tepecah belah, tidak memiliki pemerintahan yang menyatukan mereka. Bahkan setiap kampung mempunyai amir (penguasa) sendiri. ‘Uyainah mempunyai penguasa sendiri, begitu pula Dir’iyyah, Riyadh dan daerah-daerah lainnya. Sehingga pertempuran, perampokan, pembunuhan dan berbagai tindak kejahatan pun terjadi di antara mereka.
Melihat kondisi yang demikian mengenaskan, bangkitlah ghirah (kecemburuan) beliau terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga rasa kasih sayang beliau terhadap kaum muslimin. Mulailah beliau berdakwah menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengajarkan tauhid, membasmi syirik, khurafat dan bid’ah-bid’ah serta menanamkan manhaj Salafush Shalih. Sehingga berkerumunlah murid-murid beliau, baik dari Dir’iyyah maupun ‘Uyainah.

Selanjutnya beliau mendakwahi amir ‘Uyainah. Pada awalnya, sang amir menyambut baik dakwah tauhid ini dan membelanya. Sampai-sampai ia menghancurkan kubah Zaid bin Al-Khaththab yang menjadi tempat kesyirikan, atas permintaan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Namun karena adanya tekanan dan amir Al-Ahsa’, akhirnya amir ‘Uyainah pun menghendaki agar Asy-Syaikh keluar dari ‘Uyainah. Maka berangkatlah beliau menuju Dir’iyyah tanpa membawa sesuatupun kecuali sebuah kipas tangan guna melindungi wajahnya. Beliau terus berjalan di tengah hari seraya membaca:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah memberinya jalan keluar dan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut sampai tiba di tempat murid terbaiknya di Dir’iyyah yang bernama Ibnu Suwailim yang ketika itu merasa takut dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan juga syaikhnya karena penduduk negeri tersebut telah saling memperingatkan untuk berhati-hati dari syaikh. Maka beliau pun menenangkannya dengan mengatakan, “Jangan berpikir yang bukan-bukan, selama-lamanya. Bertawakkallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia akan menolong orang-orang yang membela agamanya.”

Berita kedatangan Asy-Syaikh diketahui seorang wanita shalihah, istri amir Dir’iyyah, Muhammad bin Su’ud. Dia lalu menawarkan kepada suaminya agar membela syaikh ini, karena beliau adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikaruniakan kepadanya, maka hendaklah dia bersegera menyambutnya. Sang istri berusaha menenangkan dan membangkitkan rasa cinta pada diri suaminya terhadap dakwah dan terhadap seorang ulama. Maka sang amir mengatakan, “(Tunggu) beliau datang kepadaku.” Istrinya menimpali “Justru pergilah Anda kepadanya, karena jika Anda mengirim utusan dan mengatakan ‘Datangkan beliau kepadaku’, bisa jadi manusia akan mengatakan bahwa Amir meminta beliau datang untuk ditangkap. Namun jika Anda sendiri yang mendatanginya, maka itu merupakan suatu kehormatan bagi beliau dan bagi anda.”

Sang amir akhirnya mendatangi Asy-Syaikh, mengucapkan salam dan menanyakan perihal kedatangannya. Asy-Syaikh rahimahullah menerangkan bahwa tidak lain beliau hanya mengemban dakwah para rasul yakni menyeru kepada kalimat tauhid Laa ilaha illallah. Beliau jelaskan maknanya, dan beliau jelaskan pula bahwa itulah aqidah para rasul. Sang amir mengatakan: “Bergembiralah dengan pembelaan dan dukungan.” Asy-Syaikh rahimahullah menimpali: “Berbahagialah dengan kemuliaan dan kekokohan. Karena barang siapa menegakkan kalimat Laa ilaha illallah ini, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kekokohan kepadanya.” Sang amir menjawab: “Tapi saya punya satu syarat untuk Anda.” Beliau bertanya: “Apa itu?” Sang amir menjawab: “Anda membiarkanku dan apa yang aku ambil dari manusia.” Jawab Asy-Syaikh rahimahullah: “Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kecukupan kepada Anda dari semua ini, dan membukakan pintu-pintu rizki dari sisi-Nya untuk Anda.” Kemudian keduanya berpisah atas kesepakatan ini. Mulailah Asy-Syaikh berdakwah dan sang amir melindungi dan membelanya, sehingga para thalabul ilmi (penuntut ilmu) berduyun-duyun datang ke Dir’iyyah. Semenjak itu beliau menjadi imam shalat, mufti dan juga qadhi. Maka terbentuklah pemerintahan tauhid di negeri Dir’iyyah.
Kemudian Asy-Syaikh mengirim risalah ke negeri-negeri sekitarnya, menyeru mereka kepada aqidah tauhid, meninggalkan bid’ah dan khurafat. Sebagian mereka menerima dan sebagian lagi menolak serta menghalangi dakwah beliau, sehingga merekapun diperangi oleh tentara tauhid di bawah komando amir Muhammad bin Su’ud dengan bimbingan dari beliau rahimahullah. Hal itu menjadi sebab meluasnya dakwah tauhid di daerah Najd dan sekitarnya. Bahkan amir ‘Uyainah pun kini masuk di bawah kekuasaan Ibnu Su’ud, begitu pula Riyadh, dan terus meluas ke daerah Kharaj, ke utara dan selatan. Di bagian utara sampai ke perbatasan Syam, dan di bagian selatan hingga perbatasan Yaman, dan di bagian timur dari Laut Merah hingga Teluk Arab. Seluruhnya di bawah kekuasaan Dir’iyyah, baik daerah kota maupun gurunnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan, rizki, kecukupan dan kekayaan kepada penduduk Dir’iyyah. Maka berdirilan pusat perdagangan di sana, dan bersinarlah negeri tersebut dengan ilmu dan kekuasaan sebagai berkah dari dakwah salafiyah yang merupakan dakwah para Rasul.


Karya-karya Beliau
Karya beliau sangat banyak, di antaranya:
– Kitab At-Tauhid Al-Ladzi Huwa Haqqullah ‘ala Al-‘Abid
– Al-Ushul Ats-Tsalatsah
– Kasyfusy Syubhat
– Mukhtashar Sirah Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam
– Qawa’idul ‘Arba’ah, dan lainnya


Wafat Beliau
Beliau wafat pada tahun 1206H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, meninggikan derajat dan kedudukannya di jannah-Nya yang luas serta mengumpulkan beliau bersama orang-orang shalih dan para syuhada’. Amin ya Rabbal ‘alamin.

(Disarikan dari Syarh Ushul Ats-Tsalatsah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 5, dan Syarh Kasyfusy Syubhat, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, hal. 3-12)

(Dinukil dari Majalah Asy Syariah, Vol. II/No. 21/1427H/2006, judul: Al-Imam Al-Mujaddid, Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, kategori: Biografi, hal. 71-73)

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/biografi-sirah/al-imam-al-mujaddid-syaikhul-islam-muhammad-bin-abdul-wahhab/

Sabtu, 08 Agustus 2015

Nasehat Pernikahan



ألسلام عليكم ورحمةأاللّه وبر كاته

Alkisah dan semoga mengambil hikmah dari kisah berikut ini ya...J
1.        Nasehat untuk Suami
Seorang sahabat bernama Salman Al-farisi ra, yang mempunyai adik perempuan yang kawin dengan sahabat Abu Dzar al-ghifari ,
Suatu ketika ia (Salman) menengok adiknya dirumah suaminya, dilihatnya rambut adiknya acak-acakan, pakaian kumuh, pendek kata “gak enak dilihat”.
Kemudian Salman memberikan nasehat : “Kau, bersoleklah sedikit supaya suamimu betah dirumah”
adiknya : “Untuk siapa aku bersolek?”
Salman : “Ya tentu untuk siapa lagi kalau bukan untuk suamimu?”
Adiknya: “Ah, percuma saja...suami saya jarang dirumah”
Salman    : “kemana?”
Adiknya : “Suami saya pergi ke masjid terus...”
Kemudian Salman mengadukan hal ini kepada baginda Rasul SAW, lalu baginda Rasul SAW bersabda, “Segala sesuatu ada haknya, Allah ada haknya untuk disembah, Istripun  punya haknya untuk dipenuhi.”
Melalaikan suatu hak berarti kedzaliman. Disini kita melihat fungsi, karena kekurangan perhatian Abu Dzar al-ghifari terhadap istrinya mengakibatkan kemalasan istrinya untuk mendandani dirinya sendiri.

2.        Nasehat untuk Istri
Sebuah riwayat seorang Sahabat akan berperang Jihad membela Agama Allah, ketika itu sahabat berpesan pada istrinya, “Aku mau perang membela agama, aku berpesan kepadamu kalau aku belum pulang kerumah, kau janganlah keluar rumah.”
Istrinya : “Baik bang.” Maka berangkatlah Sahabat tadi dengan iringan Doa istrinya.
Singkat cerita datanglah utusan dari Orang Tua si istri tersebut.
Utusan                    : “Assalamualaikum, bu.”
Istri Sahabat           : “Waalaikumussalam, ada apa pak?”
Utusan                    : “Orang tua ibu sakit keras, tolong pulang lah kerumah ibu mu.”
Istri Sahabat           : “Ya Allah, suami saya baru berangkat berjihad, suami saya bilang kalau dia belum pulang kerumah, saya  dilarang untuk keluar rumah. Tolong sampaikan maaf saya kepada ibu saya bahwa saya belum bisa datang karena suami saya berpesan begitu.”
Pulanglah si utusan tadi. Kemudian besok harinya utusan tadi balik lagi.
Istri Sahabat           : “Gimana.. ?”
Utusan                    : “Aduh, orang tua ibu semakin parah sakitnya, kelihatannya gak ada harapan lagi, sebelum menghembuskan nafas yang terkahir, datanglah untuk menjenguknya.”
Istri Sahabat           : “Mohon maaf, suami saya belum pulang, saya tidak berani keluar rumah sebab itu pesan suami saya. Pulanglah engkau.. saya ikut mendoakan agar ibu saya segera mendapat kesembuhan.”
Besoknya hari ke-3 utusan ini datang lagi
Istri Sahabat           : “Bagaimana.. ?”
Utusan                    : “Sudah meninggal dunia, barangkali sebelum dikubur engkau mau melihat untuk kali yang terkahir.”
Istri Sahabat           :  “Bagaimanapun berat hati bagi saya, suami saya belum pulang dan pesannya seperti itu.”
Ini rupanya si utusan tadi kesal, ini anak sama orang tua sendiri begini amat, lalu utusan tersebut melapor ke baginda Rasul SAW untuk mengadukan hal ini.
Kemudian baginda Rasul SAW bersabda : “Dosa orang tua yang meninggal ini sudah diampuni oleh Allah karena dia memiliki anak perempuan yang begitu taat terhadap suaminya.”
Allahu akbar, jadi ketaatannya (Istri terhadap suaminya) ini memberikan ganjaran untuk mengampuni dosa dosa orang tua yang sudah meninggal dunia.

Semoga kisah ini bisa memberikan kita teladan dan memberi hikmah buat kehidupan rumah tangga terlebih bagi yang hendak memulai membangun dan membina rumah tangga baru. ...J

وألسلام عليكم ورحمةأاللّه وبر كاته
Disusun Oleh           : M. Fahri Apriyanto
Sumber                   : KH. Zainuddin MZ Rahimahullah